BERITA

1-big

May Day Sejatinya Jadi Momentum Refleksi

Besok, Senin (1/5/2017) buruh sedunia, termasuk di Indonesia akan memperingati Hari Buruh Internasional atau yang biasa disebut dengan May Day. Seperti tahun-tahun sebelumnya May Day diperingati dengan ragam unjuk rasa. 

Tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional melalui sidang Internasional Working Men’s di Paris pada tahun 1889. Penetapan Hari Buruh ini dalam rangka mengenang peristiwa The Haymarket Martyr pada 4 Mei 1886.  

Kala itu kaum buruh menggelar aksi unjuk rasa di lapangan Haymarket, Chicago, Illionis, Amerika Serikat, (Kompas.com). Mereka melakukan mogok kerja sebagai reaksi atas kemuakan kaum pekerja atas dominasi kelas borjuis. Dikabarkan,  sesaat menjelang aksi berakhir, mendadak terjadi insiden yang menelan korban nyawa dan ratusan orang luka-luka akibat tindakan refresif aparat.

May Day Di Indonesia
Menurut sejarah, May Day di Indonesia pertama kali diperingati pada tahun 1920. Pada masa pemerintahan Orde Baru May Day hanya diperingati satu kali, yakni pada tahun 1966. Setelah itu May Day ditiadakan karena diidentikkan dengan gerakan kaum kiri atau komunis.

Sejak era reformasi bergulir May Day kembali semarak. Ditandai dengan macet dimana-mana akibar gelombang unjuk rasa. Pada masa pemerintahan SBY, tepatnya pada tahun 2013, Hari Buruh (1 Mei) ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Unjuk rasa dalam memperingati Hari Buruh setiap tahunnya telah mejadi corak tersendiri, layaknya ketupat di saat lebaran. Itu sah-sah saja, mengingat demokrasi membuka ruang yang seluas-luasnya bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi/pendapat. Tentu saja sejauh aksi tersebut tidak melanggar ketentuan hukum yang berlaku.

Momentum Refleksi
Hari Buruh sejatinya tidak hanya sekadar di isi dengan aksi unjuk rasa. Menyampaikan tuntutan memang penting. Tetapi jauh lebih penting adalah melakukan refleksi atas gerak langkah kita selama ini. 

Sebutlah misalnya, sebagai buruh kita menganggap tidak diperlakukan adil oleh perusahaan tempat kita bekerja. Beban kerja yang banyak, sementara gaji kecil. Mengapa demikian?

Jika menjawab pertanyaan itu dengan jujur niscaya akan mengantar kita menemukan sejumlah kelemahan. Misalnya, soal skill yang rendah. Dengan kemampuan yang minim perusahaan hanya menempatkan kita pada posisi yang tidak terlalu strategis.

Menyadari sejumlah kelemahan lalu melakukan perbaikan-perbaikan, menurutku akan menjadikan kita lebih baik. Ketika kita punya kemampuan/keahlian, menjadi bos di perusahaan sendiri bukan hal yang terlalu sulit. 

Sebagian besar orang kaya yang namanya tertulis di Majalah Forbes adalah mereka yang memulai perjuangannya dari momentum refleksi. Lalu dengan tekun melakukan perbaikan. Setelah itu, dengan komitmen dan kerja keras mereka menjadi millioner. Tidakkah kita ingin seperti mereka? Jika ‘Ya’ maka mulailah melakukan refleksi. May Day cocok untuk itu! (Salam hangat, Yusran Sofyan)