BERITA

1-big

9 Tahun Bakti Gerindra, Selenting Narasi Untuk Negeri

 
Berawal dari kegelisahan melihat kondisi bangsa yang semakin carut marut. Sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah, Indonesia di tengah arus kapitalisme global (capitalism-liberalism) dianalogikan seperti seekor domba yang terjebak di tengah kepungan kawanan serigala. Bagian demi bagian tubuh republik ini terkoyak menyisakan luka menganga. Sementara mata hanya bisa menatap nanar, menyaksikan darah yang terus mengucur dari luka di sekujur tubuh. Lagi, dan lagi, luka baru terus bertambah, menyuguh peri tak terkira.
 
Sistem ekonomi yang semakin liberal dan kapitalistik bagai amuk badai tornado yang memporak-porandakan ketahanan ekonomi nasional. Pasal 33 UUD 1945, khususnya ayat 3 yang seharusnya menjadi rujukan penyelenggaraan dan pengelolaaan kekayaan alam semakin jauh panggang dari api. Apa boleh buat, negara tak berdaya menghadapi desakan ambisi arus global yang ingin mengangkangi kekayaan alam kita. (Catatan: Ayat 3,  Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat).
 
Akibatnya, fakta yang tersaji; sejak proklamasi kemerdekaan, bangsa kita masih saja bergulat memerangi kemiskinan dan kemelaratan. Kesenjangan antara kaum kaya dengan kaum miskin bergerak kian melebar. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin melarat. Kemakmuran dan kesejahteraan sebagaimana janji negara yang tertuang dalam pembukaan konstitusi UUD 1945, tak lebih dari sekadat kata yang menjelma hampa makna. Kesejahteraan adalah kosa kata asing bagi sebagian besar rakyat di republik ini.
 
Beriringan dengan itu, sistem politik kita tiarap tak berdaya. Sistem ekonomi pasar mencengkeram demikian kuat sehingga atmosfer politik kita terkulai lunglai—jika tak ingin dikatakan takluk pada dikte asing. Lalu, rakyat sebagai pihak yang seharusnya terlindungi hanya bisa tersandar sesak, terdesak oleh pasak yang lebih besar dari tiang atau bahkan pasak tanpa tiang.
 
Pada bagian lainnya, laju inflasi seperti pesawat ulang alik, bergerak meroket  tanpa kendali. Harga kebutuhan bahan pokok serasa mencekik leher. Di saat yang sama jumlah pengangguran dan korban PHK bagai jamur yang berkecambah di musim hujan. Data BPS menunjukkan, hingga Februari 2016 jumlah pengangguran mencapai 7,02 juta orang. (tempo.co)
 
Sekadar catatan, jumlah tersebut tentu saja sesuai dengan standar kemiskinan yang digunakan BPS. Kategori miskin menurut BPS adalah mereka dengan tingkat pengeluaran per kapita per bulan  sebesar Rp211.726 atau sekitar Rp7000 per hari.
 
Sementara menurut Bank Dunia, kriteria miskin adalah mereka dengan tingkat pengeluaran setra atau kurang dari 2 Dollar AS per hari. Jika menggunakan kurs Dollar AS terhadap Rupiah saat ini, Rp13.000 X 2 = Rp26.000.
 
***
 
Adalah Bang Fadli (Fadli Zon) pada November 2007 silam—dalam sebuah perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, terlibat perbincangan dengan seorang pengusaha sukses bernama Bapak Djojohadikusumo, (Baca: Sejarah Partai Gerindra). Keduanya membincang politik kekinian yang jauh dari demokrasi sesungguhnya.
 
Beberapa hal yang saya sebutkan di atas adalah kisaran topik yang mereka juga diskusikan ketika itu. Dari bincang itu, sebuah kesimpulan lahir bahwa Iklim demokrasi yang sedang terhampar bukanlah demokrasi sesungguhnya, tetapi demokrasi yang telah dibajak. Siapa yang bajak? Mereka yang punya kapital besar. Merekalah yang menunggangi demokrasi. Bang Fadli lalu mengutip kata-kata politisi Inggris pada abad ke-18, Edmund Burke: “kalau orang baik-baik tidak berbuat apa-apa, maka para penjahat yang akan bertindak.”
 
Rupanya, perbincangan ini tidak berakhir di bandara. Hasrat untuk menyelamatkan bangsa dari cengkeraman kapitalisme menggairahkan mereka untuk melanjutkan diskusi, di waktu dan tempat yang berbeda. Hingga akhirnya, pada 6 Februari 2008, Deklarasi partai politik berlambang kepala burung garuda ini menggaung ke seluruh pojok Nusantara. Nama GERINDRA digagas oleh Bapak Hasim, sementara lambang kepala burung garuda digagas oleh Bapak Prabowo Subianto.
 
Kini, 6 Februari 2017 adalah tahun yang ke-9 GERINDRA menabur bakti pada bangsa dan negara. Hingga di usia yang ke-9, pandangan dan sikap politik Partai Gerindra belum berubah, yakni menciptakan suasana kemandirian bangsa dengan membangun sistem ekonomi kerakyatan.
 
Tidak hanya itu, kemandirian bangsa tidak akan berarti banyak jika tidak ditunjang dengan pembangunan budaya bangsa yang sesuai dengan tradisi, norma, dan kearifan lokal. Budaya tersebut yang kelak diharapkan menjadi tiang penyangga untuk bangunan wawasan kebangsaan.
 
Sayang sekali, kita tidak hidup di ruang hampa. Di dunia nyata, hasrat, kepentingan, dan ambisi telah menjelma sebagai perintang yang bertabur di jalan menuju pencapaian tujuan. Fakta bahwa Partai Gerindra saat ini merupakan kubu politik minoritas di kancah perpolitikan nasional, setidaknya bisa sedikit menjadi penawar rasa pahit atas ludah getir yang masih harus ditelan. Cita-cita kita masih serupa titik di atas bukit nun jauh di seberang sana.
 
Wajar saja, senua membutuhkan proses. Bahkan untuk sekadar bermimpi saja bukankah membutuhkan tidur dulu sebagai bagian dari prosesnya? Apa lagi ini adalah medan pergulatan dengan pemegang kendali global yang bermodal tebal.
 
Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan langkah dan semangat partai bergerak untuk pengabdian. Perlahan tetapi pasti, Partai Gerindra terus berbenah. Ibaratnya, sebuah perahu besar sedang dibangun. Di anjungan perahu terdapat sebuah teropong raksasa yang dapat digunakan untuk melihat kondisi sekitar dengan sebenar-benarnya kondisi.
 
Inilah yang terus dilakukan oleh Partai Gerindra, mengokohkan semangat dan wawasan kebangsaan kader. Di saat yang sama, mengajak masyarakat menuju anjungan perahu untuk melihat apa dan bagaimana keadaan Indonesia yang sesungguhnya.
 
Begitulah, pendidikan dan latihan kader di Hambalang, Bogor, Jawa Barat adalah langkah nyata bakti Gerindra pada bangsa dan negara dalam usaha menanamkan dan memperkokoh wawasan kebangsaan kader. Di sana, kita diajari bagaimana sesungguhnya cara ber-Indonesia. Kita dibentuk menjadi manusia Indonesia sejati.
 
Dimataku, semangat bakti yang tak pernah surut dan tapak pijak yang terus menjejak, adalah identitas tersirat yang melekat pada Partai Gerindra. Ini hanya bagian kecil di antara banyak bagian yang menjadi alasan mengapa saya bangga menjadi bagian dari Keluarga Besar Partai Gerindra.
 
Sebagai kesimpulan, saya ingin menyampaikan tujuan dan cita-cita Partai Gerindra secara singkat dan sederhana., bahwa segenap niat, semangat, dan dedikasi, yang  menjadi roh Keluarga Besar Partai GERINDRA hanya ditujukan untuk satu hal. Apa itu? Menciptakan sebanyak mungkin alasan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk TERSENYUM. Sebab kesedihan menghampiri, semata karena kita kehabisan alasan untuk menyunggingkan senyum.
 
Senyum adalah hidup sesungguhnya. Sebaliknya, tanpa senyum adalah mati sebelum ajal. Meski tidak selalu berarti demikian, tetapi benar-benar akan bermakna seperti itu jika pada akhirnya kita menyerah.
 
Mari,  bersama GERINDRA di garis bakti, kita bergerak selamatkan masa depan bangsa,  ciptakan sejuta alasan senyum. Terakhir, Dirgahayu GERINDRA ke-9, tetaplah berada di garis bakti. 
#MariSenyum
 
*Penulis adalah Wakil Sekretaris DPD GERINDRA Sulsel /Wakil Ketua DPRD Prov. Sulsel