BERITA

1-big

GELIAT SULAWESI SELATAN DI TAHUN 2016

(Catatan Akhir Tahun oleh Yusran Sofyan)
Laksana roda, waktu terus berputar dengan segala dinamika dan nuansa kehidupan yang mengiringinya. Perputaran waktu pulalah yang kemudian mengantarkan kita pada penghujung tahun 2016 saat ini. Beragam denyut kehidupan dan rekaman jejak mewarnai perjalanan Provinsi Sulawesi Selatan selama kurun waktu tahun 2016 ini. Kemajuan dan pertumbuhan serta progresifitas berbagai bidang serta aspek kehidupan begitu kental mewarnai perjalanan Sulawesi Selatan. Iklim pemerintahan yang sehat dan bermartabat serta harmonisasi seluruh stakeholder yang ada mampu menunjukkan perbaikan pembangunan berbagai sektor.

Sektor pertanian misalnya, Sulawesi Selatan telah mampu menuntaskan lima masalah mendasar bidang pertanian, yakni air irigasi lahan sawah, pupuk, benih, alat mesin pertanian dan penyuluhan. Keberhasilan ini ditunjukkan dengan peningkatan berbagai hasil pangan strategis sekaligus menobatkan Sulawesi Selatan masuk lima besar sebagai provinsi penyangga pangan nasional. Hal ini tentu patut diapresiasi sebab Sulawesi Selatan merupakan satu-satunya provinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang masuk sebagai penyangga pangan nasional bersama daerah di Pulau Jawa. 

Upaya yang telah ditempuh seperti mempercepat proses tanam dan panen hingga tiga kali dalam setahun, memaksimalkan fungsi irigasi, modernisasi alat pertanian, dan perluasan lahan pertanian termasuk pencetakan sawah baru yang mencapai 10.400 hektare membuahkan hasil berupa ketahanan pangan Sulsel yang mampu menembus surplus beras hingga mencapai dua juta ton. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel menunjukkan bahwa luas sawah di Sulsel saat ini mencapai 639 ribu hektare dengan pencapaian produksi padi mencapai 5,7 juta ton. Hal ini merupakan prestasi yang tentunya harus dipertahankan dan terus ditingkatkan.

Bidang perikanan dan kelautan juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tercatat ada tiga komoditas produksi sektor perikanan dan kelautan Sulsel yang menjadi unggulan sejak tahun 2015 kemarin, yakni udang mencapai 40.346,8 kg, rumput laut mencapai 3.289.907,6 kg dan bandeng yang mencapai 126.226,6 kg. Sementara itu, khusus untuk produksi ikan tangkap di Sulawesi Selatan pada tahun 2016 mencapai 280.000 ton. 

Dengan melimpahnya produksi yang berasal dari sektor perikanan dan kelautan Sulsel, ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan mengupayakan setiap hasil produksi masuk dalam industri agar mampu menemukan pasar yang kuat. Pemasaran yang kuat tentunya akan berdampak positif dimana keuntungan yang bisa didapatkan akan berlipat ganda. Keuntungan besar ini secara otomatis akan meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakat Sulsel.

Sektor lainnya yang juga menggeliat di tahun 2016 ini adalah sektor perkebunan. Sulsel masih mengandalkan komoditi andalan seperti kakao dan cengkeh. Meski belum ada rilis secara valid soal angka dan statistik pertumbuhannya, namun dilapangan sektor ini diyakini mengalami peningkatan jumlah beberapa komoditi andalannya. Kakao, misalnya yang sempat menurun pada tahun 2014 dan tahun 2015 silam mulai menunjukkan peningkatan sampai angka 140.317 ton. 

Khusus komoditi kakao, memang sempat mengalami penurunan jumlah di dua tahun belakangan. Temuan dilapangan menunjukkan bahwa produksi kakao yang sempat menurun dipengaruhi oleh anomali iklim, hama penyakit dan konversi lahan. Banyak masyarakat yang mengalihkan lahan kakao yang sudah tidak produktif menjadi lahan untuk komoditi lain.

Sektor lain yang juga banyak menunjang kemajuan Sulawesi Selatan di tahun 2016 adalah sektor kehutanan. Beberapa program riil yang dilakukan pemerintah Sulawesi Selatan terkait sektor kehutanan meliputi program “Hijau di Bumi Sulawesi” yang berisi kegiatan untuk menggalakkan penghijauan di seluruh kabupaten. Mengingat bahwa salah satu faktor penghambat yang selalu menghantui sektor kehutanan adalah faktor kebakaran hutan, pemerintah ditahun 2016 telah berupaya semaksimal mungkin melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga kawasan hutan lindung di Sulsel yang memiliki luas 2,7 hektare. Partisipasi masyarakat untuk menjaga kawasan hutan masing-masing daerah merupakan faktor penunjang sehingga kebakaran hutan bisa diantisipasi dan dikurangi seminimal mungkin.

Terakhir, berbicara soal nilai ekspor Sulsel di tahun 2016. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, selama Januari hingga akhir tahun 2016, total nilai ekspor Sulawesi Selatan mencapai US$ 1.027,11 juta. Jumlah ini tentunya menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan termasuk provinsi dengan nilai ekspor diatas rata-rata per tahun.

Berkaca pada pertumbuhan berbagai sektor riil Sulawesi Selatan diatas, hendaknya menjadikan kita lebih optimis untuk menyambut pergantian tahun menuju 2017 mendatang. Sekalipun tak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan yang masih memerlukan pembenahan, tapi setidaknya sektor-sektor riil yang menjadi nafas perekonomian dan pembangunan di Sulawesi Selatan menunjukkan grafik kearah yang positif.

Oleh karena itu, mari kita sama-sama menatap tahun 2017 dengan harapan dan semangat yang lebih besar tentunya dengan senyuman sebagai pertanda bersiap menuju kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Mempertahankan dan berupaya meningkatkan pencapaian serta membenahi segala kekurangan sebagai upaya refleksi untuk kita semua. Selamat menyambut Tahun Baru 2017, mari optimis dalam cita-cita dan karya, iringi dengan senyuman yang kita punya

#SalamIndonesiaRaya
#MariSenyum